APRESIASI PUISI

  1. Penyair yang lebih sering menggunakan kata-kata warna!

 

  1. Teungku Amir Hamzah Pangeran Indra Putra

Panji di Hadapanku

Kau kibarkan panji dihadapanku

Hijau jernih diampu tongkat mutu-mutiara

Di kananku berjalan, mengiring perlahan, ridlamu, dua sebaya, putih-putih, penuh melimpah, kasih perish

 

  1. Chairil Anwar

 

SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

  1. Ciri-ciri khusus dalam penggunaan kata yang digunakan oleh:
  2. Taufik Ismail
  3. WS. Rendra
  4. Chairil Anwar
  5. Sutardji Calzoum Bachri

Puisi merupakan salah satu genre sastra yang makin lama makin berkembang dari waktu ke waktu, baik dari segi bentuk maupun jumlah peminatnya.  Sebagai sebuah karya sastra, puisi tentunya memiliki hakikat dan fungsi yang disebut dulce et utile. Dulce artinya menyenangkan, sedangkan utile artinya bermanfaat.  Jika menyoroti hakikat dulce, penyair berusaha sebisa mungkin menggunakan berbagai cara untuk membuat puisinya memiliki kesan yang menyenangkan.

  1. a.      Taufik Ismail

Salah satu cara yang digunakan penyair untuk menimbulkan kesan menyenangkan pada puisinya adalah dengan menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi. Setiap penyair memiliki ciri khas atau gaya sendiri-sendiri dalam menggunakan ketidaklangsungan ekspresi.  Salah satu penyair yang sering menggunakan ketidaklangsungan ekspresi puisi adalah Taufik Ismail.  Penyair yang banyak menulis puisi-puisi bernada sosial ini juga sudah menelurkan berbagai antologi puisi diantaranya : Tirani dan Benteng (1966) dan Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia (1998). Dalam kumpulan puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia Karya Taufik Ismail, penulis telah menguraikan analisis ketidaklangsungan ekspresi puisi yang terkandung di dalam lima puisi dengan masing-masing judul: Seratus Juta; Syair Empat Kartu di Tangan; Miskin Desa, Miskin Kota; Air Kopi Menyiram Koran; dan Kuitansi.

Karya-karya Taufik Ismail  

SALEMBA

Alma Mater, janganlah bersedih
Bila arakan ini bergerak pelahan
Menuju pemakaman
Siang ini

Anakmu yang berani
Telah tersungkur ke bumi
Ketika melawan tirani

Sebuah Jaket Berlumur Darah

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan berahun-tahun

Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan sangkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan mengenakan baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN

  

  1. b.      WS. Rendra

Puisi- puisi karya W.S Rendra dapat dianalisis melalui tema alienasi yakni tema yang mempunyai gambaran seseorang yang memisahkan diri atau terpisah dari sosialnya kemudian menjadi terasing. Dalam tema alienasi pada puisi-puisi karya WS. Rendra, terdapat empat faktor yang melatar belakangi adanya alienasi, yakni rasa kesepian, kurangnya rasa solidaritas, ketidakberdayaan dan antipati atau ketidakpercayaan. Kemudian diksi yang digunakan merupakan diksi atau pilihan kata-kata konotatif dan kata-kata yang menunjukkan ciri khas Rendra sebagai penyair yang berlatar belakang budaya jawa yang diungkapkan melalui susunan kata estetik, sehingga menimbulkan daya sugesti tinggi, seperti adanya rasa cinta, bahagia serta kegelisahan.

Karya-karya WS. Rendra

Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang

Oleh : W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal

Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia

Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku

Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-

Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku

Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25
18 Juni 1960

 

Gerilya

Oleh : W.S. Rendra

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya

Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama

Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya

 

  1. Chairil Anwar

Chairil Anwar adalah legenda sastra yang hidup di batin masyarakat  Indonesia. Ia menjadi ilham bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya. Puisi lama karya Chairil Anwar sangat kaya akan khiasan-khiasan tajam dan menikam. Diantara gaya khasnya yang berpuisi adalah menggunakan warna-warna kuning, hijau, lembayung dan sebagainya yang merupakan representasi dari sikap hidup, gagasan serta perbuatan yang selalu muncul dalam sajak-sajaknya. Puisi Chairil Anwar merupakan ungkapan gejolak batin dari sang penyair dan tidak mudah menetukan makna dari puisi-puisinya karena setiap orang selalu menemukan penafsiran yang berbeda tentang puisi Chairil Anwar.

Karya-karya Chairil Anwar

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

  1. d.      Sutardjiti Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri memiliki ciri khusus dalam penggunaan kata-kata khas seperti: ngiau, huss, puss, tiarap harap, burung paling sayap, laut paling larut, tanah paling pijak, renyai, sangsai, ngilu, puri pura-puraku, anu, bajingan, tai, pukimak, duri sepi, dupa rupa, menyan luka, pot, pagut, dukangiau, duhai sangsai, waswas, o bolong, dan sebagainya. Kata-kata yang dipilih Sutardji tersebut kurang lazim digunakan dalam puisi Indonesia, dalam puisinya banyak kata-kata yang tidak bermakna diberi makna baru; dan juga digunakan untuk mengungkapkan ungkapan yang bersifat estetis.

 

 

Karya-karya Sutardji Calzoum Bachri

GAJAH DAN SEMUT
Oleh :
Sutardji Calzoum Bachri

tujuh gajah
cemas
meniti jembut
serambut
tujuh semut
turun gunung
terkekeh
kekeh
perjalanan
kalbu
1976-1979

JEMBATAN
Oleh  :
Sutardji Calzoum Bachri

    Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata
    bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi
    dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.
    Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang
    jalanan yangberdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.
    Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam
    para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.
    Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase
    indah di berbagai palaza. Wajah yang diam-diam menjerit
    mengucap
    tanah air kita satu
    bangsa kita satu
    bahasa kita satu
    bendera kita satu !
    Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan jalan
    mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan
    tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah
    yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang
    di antara kita ?
    Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot
    linu mengerang mereka pancangkan koyak-miyak bendera hati
    dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu
    mengucapkan kibarnnya.
    Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami.
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air


 

  1. Ciri-ciri Puisi Karya Sendiri

Ciri-ciri khusus dalam puisi yang telah saya buat adalah aliran romantisme, karena karkata-kata yang digunakan di dalamnya banyak terdapat kata-kata romantis, mengutamakan rasa  yang mengawan ke dalam khalal, lukisannya indah membawa pembaca ke dalam mimpi. Yang dilukiskan mungkin saja terjadi, tetapi semua dilukiskan dengan mengutamakan keharuan rasa para pembaca.

Contoh puisi:

JENUH

Jenuh mendengarkan  kemarahan

Yang kau tujukan pada aku

Aku bukan orang yang sempurna

Yang dapat menuruti apa yang kau mau

            Aku hanya seorang manusia biasa

            Yang mempunyai banyak kekurangan

Jenuh mendengarkan omelan

Yang kau tujukan kepada aku

Mengapa engkau selalu berbuat semaumu?

            Aku hanya seorang manusia biasa

            Yang mempunyai perasaan

Aku sakit hati dikata-katai

Tapi apalah daya diriku ini

Hanya bisa mendengar tidak bisa membantah

Sudah puaskah dirimu mengata-ngataiku?